Ujian Nasional dihapuskan. Itulah berita yang akhir-akhir ini terdengar. Ada yang gembira, ada yang biasa saja, dan sebagian lainnya khawatir. Berita ini muncul setelah Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi gugatan Ujian Nasional (UN) yang diajukan pemerintah. Dengan putusan ini, Ujian Nasional (UN) dinilai cacat hukum dan pemerintah dilarang menyelenggarakannya. Dengan kata lain berdasar ketentuan hukum, Ujian Nasional (UN) resmi dihapuskan.
Memang, jika kita mengacu pelaksanaan UN selama ini penuh carut marut. Perdebatan panjang tidak ada hentinya. Mulai dari kualitas pendidikan yang tidak merata, kecurangan dalam pelaksanaannya dan sebagian institusi pendidik dan LSM menganggap UN adalah intervensi pemerintah dalam proses teknis pendidikan.
Terlepas dari nanti UN ada atau tidak (menunggu peninjauan kembali (PK) -jika dikabulkan MA), hendaklah kita berpikiran dingin. Sebagai bangsa yang sedang belajar bagaimana mengelola pendidikan dengan benar, kita harus mempunyai gambaran tentang sistem pendidikan. Bagaimana caranya nanti Indonesia bisa mengukur kualitas pendidikan. Betul, jika pelaksanaan UN penuh kecurangan sehingga pelaksanaannya mubazir dan cenderung membuang dana. Tetapi, rencana PTN ikut terlibat didalamnya bukankah itu sarana untuk memperbaiki dan meningkatkan akuntabilitas UN? Lagipula jika UN dihapus dan kinerja proses belajar sepenuhnya diserahkan ke otonomi sekolah, bagaimana kita bisa mengevalusi sarana dan prasaran di sekolah serta membandingkannya dengan sekolah lain? Dan juga apakah sekolah bisa diberi tanggung jawab untuk semua urusan itu. Kita semua tau, sekolah di Indonesia terdistribusi sangat luas dengan problematika masing-masing, sehingga bagaimana mungkin semua diberi tanggung jawab yang sama.
Saya, lebih setuju dengan pernyataan Seto Mulyadi (ketua komnas perlindungan anak) di kompas online, yakni mendukung UN tidak perlu dihapus. Kelulusan setiap siswa di level pendidikan didasarkan pada proses belajar mengajar selama siswa di sekolah. UN ditempatkan sebagai bagian dari proses penilaian. Melalui UN pula, pemerintah atau sekolah bisa menggunakannya untuk mengevaluasi sarana dan prasarana pendidikan seperti kualitas guru, kurikulum, dan standar penilaian.
Tapi apapun keputusannya, mari kita dukung upaya semua pihak untuk mencerdaskan bangsa ini dari kebodohan dan ketidakjujuran yang sudah sistemik baik di birokrasi maupun sekolah melalui UN yang lalu.
Posting komentar anda terhadap artikel ini, di sini (
Dilarang menggunakan kata-kata yang tidak sopan)
Posting yang masuk:
|
tanggal
|
nama
|
rank
|
komentar
|
|
Selasa, 9 Maret 2010
|
kaxalvur
|
5
|
ywvpuorc http://wvkftggp.com eibpevvo idtsheon [URL=http://ewaganxo.com]oxgwllsp[/URL] <a href="http://pgripoaa.com">yvfijvba</a>
|
|
Senin, 8 Maret 2010
|
iiqodtqo
|
0
|
<a href="http://ckxciqdo.com">rsxlnzza</a> iqpvicop http://siagdqis.com wlozfzmi nfsprznc [URL=http://ziknznws.com]ksydboot[/URL]
|
|
Kamis, 25 Februari 2010
|
qkkjaaodhk
|
1
|
AenozA <a href="http://wasrzzncevpc.com/">wasrzzncevpc</a>, [url=http://fbmbclhqtjxg.com/]fbmbclhqtjxg[/url], [link=http://obxcyswytjkw.com/]obxcyswytjkw[/link], http://poyqtiqlulir.com/
|
|
Selasa, 2 Februari 2010
|
dedek
|
2
|
saya setuju dengan penghapusan un.
tapi saya masih bingung.
sebenarnya penghapusan un ini udah jelas apa belum?
|
|
Selasa, 2 Februari 2010
|
Annisa Ulfa
|
2
|
saya juga setuju dengan kak seto...
tapi...bukannya UN sudah ditetapkan bulan maret ini??
|
|
Minggu, 3 Januari 2010
|
ramdani
|
2
|
bukannya UN sudah di sahkan dan di adakan yah pak? tgl 22 maret kalo ga salah. apa betul?
|
|
Selasa, 22 Desember 2009
|
soparidah
|
0
|
UN ada baiknya dilaksanakan tapi tidak semata-mata sebagai penentu kelulusan , krn masih ada beberapa aspek yg juga terkait dalam proses pendidikan itu sendiri, intinya harus tetap ada keseimbangan antara peran sekolah sebagai pelaksana pendidikan dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, jgn ada target2 politik didalamnya.
|
|
Jum'at, 18 Desember 2009
|
okta
|
2
|
tidak ada ruginya UN dilaksanakan. toh, soal-soalnya pasti tidak akan terlalu sulit kan? hhehehehe..
menurut saya, UN lebih baik dilaksanakan. akan tetapi UN tersebut sifatnya tidak memaksa, tidak ada konspirasi dari pihak manapun dan yang terpenting : tidak merugikan dan memberatkan pihak manapun.
|
|
Rabu, 16 Desember 2009
|
Ikhsan
|
1
|
UN sebaiknya dilakukan mengingat kesempurnaan sebuah sistem perlu proses panjang. Belum ada jaminan seandainya UN dihapus kualitas pendidikan akan meningkat. Dengan UN sebagai penentu kelulusan saja masih banyak pendidik yang belum profesional. lalu bagaimana bila penentu kelulusan adalah sekolah??? saya yakin akan banyak raja2 kecil di dunia pendidikan.
|
|
Senin, 7 Desember 2009
|
Budi
|
0
|
UN sebaiknya tetap dijalankan tapi jangan sebagai syarat kelulusan tapi untuk melihat sejauh mana mutu pendidikan di Indonesia
|
|
Rabu, 2 Desember 2009
|
endra
|
2
|
Kalo ujian nasional dihapuskan lalu di ganti dengan apa ??
|